RSS

06 Jul
TUMBUHAN PAKU YANG TUMBUH
DI COBAN TALON
Dosen Pembimbing :
Drs. Sulisetjono, M.Si
Ainun Nikmati Laily,M.Si
Disusun oleh             :
1.    Khoirur Rizkiyah      (10620002)
2.    Anik Bariroh            (10620009)
3.    Wilda Sofiyah          (10620023)
4.    Eka Putri                 (10620035)
                          

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2011

 

  1. 1.     pytirogramma calomelanos

 

Lokasi : Cuban talon

Tgl pengambilan : 18 Maret 2012

Klasifikasi :

Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom   Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi   Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas   Pteridopsida
Sub Kelas   Polypoditae
Ordo   Polypodiales
Famili   Polypodiaceae
Genus   Pityrogramma
Spesies   Pityrogramma calomelanos (L.)

Nama lokal : paku perak (Indonesia), pakis perak (jawa)

Deskripsi :

Habitat : Pityrogramma calimelanos L merupakan tumbuhan epifit, hidup di atas pohon – pohon, tetapi bukan termasuk tumbuhan parasit kerana ia hanya berpaut pada kulit kayu untuk mengumpulkan makanan dan air yang diperlukan . Akar paku – pakis epifit ini jarang menjejaki tanah kerana ia biasanya diselimuti oleh tumbuhan lumut . Lumut ini sedikit sebanyak membantunya mengumpul air dan humus sebagai sumber nutrient.

Habitus : termasuk jenis herba

Ciri spesifik : paku ini adalah rumpunnya kecil tetapi mempunyai ental yang banyak, panjang entalnya 50-100 cm.Vernasi bergelung : ada, Dimorfisme : sporofil, Daun tereduksi : tidak ada, Daun sarang : tidak ada, Ligula : tidak ada, Daun penumpu : tidak ada.

Manfaat : sebagai bahan antikanker dan antioksidan.

Rizoma : Bentuk akar rizoid atau berbentuk serabut.

Stipe:

  1. Bentuk : bulat, pannjang berkayu
  2. Permukaan adanya rambut : halus
  3. Ukuran : 7mm
  4. Warna : hijau
  5. Percabangan : dikotom

Ental : : paku perak (Pityrogramma calomelanos) mempunyai rumpunnya yang kecil tetapi mempunyai ental yang banyak, menyirip ganda dua, letaknya berselang-seling yang panjangnya berkisar antara 50-100 m. warna dari tangkai entalnya yaitu berwarna hitam, bersisik pada pangkalnya dan tidak bersisik mengkilat, anak daun yang terletak dibagian pangkal adalah jenis daun tunggal, sedang yang dibagian tengah dan ujungnya menyirip yang paling ujung melekuk dan bisa mencapai ukuran 17 cm dan lebar 4-5 cm melancip pada bagian ujungnya

Spora : Spora pada paku perak ini terletak pada bagian bawah dari daun dan menyebar.  

 

1.      Angiopteris avecta
Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
LOKASI          : Taman Hutan Raya Cangar batu Malang
Tanggal          : 11 Maret 2012
Nama Umum
Indosesia       : Paku gajah
Inggris : Mule’s-foot fem
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Marattiopsida
Ordo: Marattiales
Famili: Marattiaceae
Genus: Angiopteris
Spesies: Angiopteris avecta
Diskripsi
Angiopteris evecta termasuk suku Marattiaceae. Dikenal dengan namaKing fern, giant fern, elephant fern, mule’s-foot fern, atau paku gajah.
Mempunyai sinonim Polypodium evectum G. Forster dan Angiopteris palmiformis (Cav.)
Habitat
Habitat Angiopteris evecta adalah hutan primer-sekunder di daerah tropis dan sub tropis. Jenis ini sering terdapat di dekat sungai yang ternaung, tempat miring, sepanjang jalan kecil di tempat terbuka di hutan, ditemukan mulai 0-1.200 m dpl., tersebar luas di daerah tropis mulai Madagaskar dan Asia tropis, sepanjang Asia Tenggara, sampai Australia dan Polinesia.
Morfologi
1)     Akar
Pada umumnya akar paku-pakuan adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom, tetapi ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Akar Angiopteris evecta berupa akar rimpang pendek, berdaging, besar, tegak, membentuk rumpun sampai tinggi 1 m dan diameter 0,5-1 m.
2)     Batang
Angiopteris evecta merupakan tumbuhan paku terestrial yang sangat besar dengan morfologi batang tegak dan kokoh.
3)     Daun
Angiopteras evecta berdaun majemuk ganda 2, panjang sampai 6 m, tersusun rapat di ujung akar rimpang. Tangkai daun ±1/2 dari panjang daun, bagian pangkal membengkak dengan sepasang stipula yang bentuknya membundar, panjang stipula 5 cm, lebar 7 cm. Daun panjang sampai 6 m, lebar sampai 2 m, biasanya majemuk ganda 2, permukaan atas hijau gelap, permukaan bawah lebih terang. Tangkai anak daun membesar di bagian pangkal.Anak daun jorong-lanset, panjang 1 m atau lebih. Anak-anak daun panjang 20 cm lebar 2,5 cm, jorong, tepi bergerigi dangkal, tulang daun tunggal/bercabang.
4)     Sporangium
Sori Angiopteris evecta berupa annulus lateral yang berkelompok rapat membentuk garis memanjang, sori tersebut berwarna merah kecokelatan, berbentuk jantung yaitu agak oval terbalik dan mempunyai indusium yang berbentuk kantung. Sori pendek, sub marginal, di garis yang tak teratur, ±0,5-1,5 mm dari bagian tepi .
Angiopteris evecta ini dikatakan mempunyai indusium karena pada saat pengamatan dengan menggunakan mikroskop, sori bergerak dan tumbuh seperti bunga mekar dan akhirnya suatu selaput membuka.Dari membukanya selaput tersebut dimungkinkan adalah sori. Jenis Spora Angiopteris evecta adalah homospor yaitu tumbuhan paku yang mempunyai jenis spora yang sama.
Siklus hidup
Dalam siklus hidup Pteridophyta juga terdapat pergantian generasi. Prkembangbiakan Angiopteris evectasama dengan tumbuhan paku lainnya yaitu dengan menggunakan spora. Individu yang menghasilkan gamet disebut gametofit dan merupakan generasi yang haploid. Setelah terjadi fertilisasi akan membentuk zigot yang merupakan permulaan dari keturunan (generasi) yang haploid. Kemudian dari sini lalu terbentuk individu yang diploid dan diberi nama sporofit. Sporofit merupakan individu yang menghasilkan spora melalui pembelahan reduksi.Jadi spora ini merupakan permulaan dasi generasi yang haploid. Dari spora ini akan dapat terbentuk protalium (protalus) melalui perkecambahan dari spora
Manfaat
Di Ambon daun mudanya dimakan, selain itu juga dapat digunakan sebagai obat tradisional seperti menghentikan pendarahan setelah melahirkan, obat beriberi, batuk, demam, sakit maag, obat bisul.Selain digunakan sebagai obat penggunaannya sebagai tanaman hias juga telah dilakukan.
daun mudanya dimakan, selain itu juga dapat digunakan sebagai obat tradisional seperti menghentikan pendarahan setelah melahirkan, obat beriberi, batuk, demam, sakit maag, obat bisul. Selain digunakan sebagai obat penggunaannya sebagai tanaman hias juga telah dilakukan.
2.      Ophioglossum sp.
Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Lokasi                        : Taman hutan raya R. Soeryo Cangar Batu
Tanggal          : 11 Maret 2012
Nama umum
Indonesia       : Paku simbar Gadang
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Psilotopsida
Ordo: Ophioglossales
Famili: Ophioglossaceae
Genus: Ophioglossum
Spesies: Ophioglossum pendulum Linn.
MORFOLOGI
1). Akar
Akarnya sedikit dan rimpangnya berdaging, berbentuk seperti pita dan ujungnya tumpul, pada bagian pangkalnya menyempit.
2). Daun
Bentuknya hamper menpunyai paku tanduk uncal, daun-daunnya lemah.
3). Spora
Sporanya terletak antara lekukan-lekukan bulir, dan warnanya hijau.Rhizoma tuberosus, untuk 1 m diameter, 7 mm tinggi, bantalan akar berdaging banyak. Daun sekitar 18 cm panjang, 3 pada rimpang; Phyllomophore sampai 30 cm; trophophyll oblong-lan ceolate, akut di puncak, sempit cuneate di pangkalan, 4,5-6,5 cm. 1,3-1,8 cm lebar; berbeda costae di permukaan keduanya; urat melapisi dengan gambaran yang mirip kisi-kisi, areoles utama 3 atau 4 baris pada setiap sisi costae, aredes lebih kecil, sering dengan termasuk veinlets bebas; tekstur agak berdaging, lembut rumputan; sporophyll sederhana, dengan tangkai sekitar 10 cm, paku menjadi 4,5 cm. sporangia sekitar 0,5 mm; spora gelap, dengan agak kasar melapisi dgn gambaran yg mirip kisi-kisi exospor.
4). Batang
Batang di dalam tanah yang pendek, pada bagian bawah masi mempunyai protostele, tetapi ke atas mengadakan diferensiasi dalam berkas pengangkutannya.
            5). Protalium
Protalium berumah satu, tidak mengandung klorofil, didalam tanah, dan hidup sebagai saprofit dengan pertolongan cendawan mikoriza.Anteridium dan arkegonium terbenam dalam jaringan protalium yang berbentuk umbi dan dapat berumur sampai beberapa tahun.Anteridium menyelubungi suatu kompleks jaringan spermatogen yang menghasilkan spermatozoid berbentuk spiral dengan banyak bulu-bulu cambuk. Pada beberapa jenis embrionya sampai beberapa tahun tetap di dalam tanah
Anggota L. Ophioglossum genus (Ophioglossaceae) (Ophioglossaceae) dikenal sebagai lidah ular or adder’s tongue ferns.atau lidah penambah pakis. Genus ini terdiri dari, seluruh dunia, sebuah 28-58 diperkirakan to 40 species pada 1969) menjadi 40 spesies Di India, itu diwakili oleh 12 spesies. Pullaiah et al. et al. (2003)) mencatat tiga spesies dari genus untuk negara bagian Andhra Pradesh, yaitu, Ophioglossumgramineum Willd., O.nudicaule L.f. gramineum L.f. Willd., O.nudicaule and O. dan O.reticulatumreticulatum L. Namun, sebelumnya Rao et al. (1999) reported O. (1999) melaporkan O.pedunculosum Desv. pedunculosum Desv. menjadi umum di perbukitan Tuni Godavari Timur Kabupaten yang identik dengan Ohioglossum costatum R.Br. Ohioglossum costatum R.Br. Yang berbeda, luas jenis sering salah diidentifikasi dengan O. nudicauleO. nudicaule Lf Kehadiran upaya kertas untuk melihat ini masalah dan menambahkan catatan pada lapangan identitas dan terjadinya pakis paleotropical, Ophioglossum costatum R.Br di Andhra Pradesh.
Bangsa Ophioglossales hanya terdiri atas satu suku Ophioglossaceae dengan beberapa jenis saja. Tumbuhan ini biasanya mempunyai Ophioglossaceae bersifat isospor..Akar di bentuk lebih dulu daripada daun dan tunasnya.Ophioglossaceae hidup sebagai paku tanah dan epifit.Daun yang steril bertepi rata atau berbagai menggarpu 1-2 kali, bertulang jala tanpa ibu tulang yang nyata. Contoh Ophioglossum vulgatum(eropa), Ophioglossum reticulatum (indonesia).Ophioglossum pendulum L. merupakan anggota dari suku Ophioglossaceae, biasa disebut simbar gadang, kumpai lubang, atau daun rambut. Biasanya tumbuh epifi t di pohon besar di tempat ternaung pada ketinggian sekitar 1.040 m dpl, yang khas dari jenis ini adalah daun-daunnya tumbuh menjuntai sepanjang kurang lebih 1,5 m. Daunnya tunggal, berbentuk seperti pita, bercabang. Bila tumbuh di tempat terbuka daunnya lebih sempit dan percabangan lebih banyak.Bulir yang mendukung spora terletak di bagian pangkal daun, panjang sekitar 20 cm. Spora terletak diantara lekukan-lekukan bulir. Jenis ini tersebar di Madagaskar, Asia Tropika, Polinesia, Assam Utara, Indo-China, Hainan, Malaya, Indonesia dan Australia. Dijumpai di hutan dataran rendah maupun pegunungan sampai ketinggian 1.600 m dpl
HABITAT
Menggantung dan tumbuh pada jenis tumbuhan tertentu, terutama pohon palem, ketinggian mencapai 1600 m dpl. Reproduksi: Seksual dengan membentuk sporangium, sedangkan aseksual dengan bantuan spora.
Manfaat
Sebagai tanaman hias simbar gedang yang menarik, daun simbar gedang yang dihaluskan dan dicampur dengan minyak kelapa dapat dipakai untuk obat luar. Keasaman: 5,5, kebasaan: 6,5
3.      Selaginella sp.
Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Lokasi                        : Taman hutan raya R. Soeryo Cangar Batu
Tanggal          : 11 Maret 2012
Nama lokal : Paku rambat
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Lycopodiophyta
Kelas: Lycopodiopsida
Ordo: Selaginellales
Famili: Selaginellaceae
Genus: Selaginella
Spesies: Selaginella sp.
Deskripsi :
Tanaman merambat. Daun seperti cabang yang berasal dari akar Merupakan paku  heterosporous (megaspora dan mikrospora) Struktur telah di sebut ligues.
Habitat :
Selaginella sp banyak ditemukan di hutan tropis, beberapa jenis diantaranya dapat hidup di daerah yang kering, sehingga menyerap banyak air ketika musim hujan tiba.
Morfologi :
            1). Daun
Selaginella sp merupakan tumbuhan paku berdaun majemuk, bentuk daun kecil-kecil, daun seperti cabang yang berasal dari akar,tumbuh merambat, bertangkai tidak mengkilat, sorus tidak berbentuk cincin, tidak memiliki serbuk perak,ental subur tersusun dalam karangan yang disebut strobili yang terletak di ujung percabanga.
2). Batang
Batangnya tidak berongga.
3). Akar
Akar bercabang-cabang
4). Sporangium
Sporangium terdapat pada ketiak daun serta berkumpul membentuk seperti kerucut disebut strobilus dan spora terdapat di tepi daun.
Skema Daur :
Mikrospora akan tumbuh menjadi mikroprotalium, sedangkan makrospora akan tumbuh menjadi makroprotalium. Selanjutnya, mikroprotalium membentuk mikroogametofit yang akan menghasilkan anteridium dan akan menghasilkan sperma. Sebaliknya makroprotalium membentuk makrogametofit yang akan menghasilkan arkegonium dan akan menghasilkan ovum. Jika terjadi fertilisasi antara sperma dan ovum, maka akan menghasilkan tumbuhan paku. Dan tumbuhan paku ini akan berkembang menghasilkan spora, demikian seterusnya. Selaginella sp bersifat heterospora dengan gametofit yang uniseksual.Setiap sporofilnya mempunyai sporangium tunggaal pada permukaannya.Megasporangium tumbuh pada megastropil dan mikrosprangium tumbuh pada mikrosporofil.Kedua tipe sporofil tersebut pada satu strobilus.
            Gametofit jantan (mikrogametofit) tetap tumbuh di dalam mikrospora (gametofit endosporik).Pada perkembangannya gametofit jantan hanya terdiri dari satu sel protalial dan satu anteridium yang selanjutnya menghasilkan beberapa sperma biflagela.
Gametofit betina (megagametofit) tumbuh dengan pecahnya dinding megaspora.Bagian yang menonjol keluar dari dinding megaspora.Bagian yang menonjol keluar dari dinding megaspora adalah bagian gametofit yang mendukung arkegonia. Pada beberapa jenis dilaporkan bahwa bagian yang menonjol keluar mampu melakukan fotosintesis,walaupun pada umumnya makanan disediakan oleh megaspora. Pada umumnya fertilisasi terjadi setelah gametofit dilepaskan dari strobilus. Setelah terjadi fertilisasi,sporofitmuda tetap tergantung sepenuhnya pada gametofit,selanjutnya perlahan-lahan melepaskan diri dari gametofit.
Manfaat dan kerugian :
 Selaginella sp dijadikan sebagai tanaman hias, tidak heran harga jualnya pun bermacam-macam tergantung jenisnya. Kerugiannya, beberapa jenis Selaginella ini memiliki zat asam sikimat yang dapat mengganggu pencernaan.
4.      Pityrogramma calomelanos
Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Lokasi                        : Taman hutan raya R. Soeryo Cangar Batu
Tanggal          : 11 Maret 2012
Nama umum
Indonesia       : Paku Perak
Inggris : Sword fern, Boston fern.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Polypodiaceae
Genus: Pityrogramma
Spesies: Pityrogramma sp.
Deskripsi       :
Dalam bahasa Indonesia di kenal dengan paku perak, termasuk Family Pterydaceae.Jenis paku ini umum di kenal dengan nama paku perak (sund), pakis perak (jawa) , pada saat tumbuhan ini masih muda, seluruh entalnya tertutup oleh sejenis tepung berwarna putih kekuningan dan pada saat ental telah dewasa, tepung tersebut hanya ditemukan pada permukaan daun bagian bawah saja. Kemungkinan dengan adanya warna putih kekuningan ini orang menyebut dengan nama paku perak.
Habitat :
Pityrogramma calimelanos L merupakan tumbuhan epifit, hidup di atas pohon – pohon lain tetapi bukannya tumbuhan parasit kerana ia hanya berpaut pada kulit kayu untuk mengumpul makanan dan air yang diperlukan .
Morfologi :
            1). Daun
Jenis daun makrofil dengan bentuk daun delta yang berukuran anisofil.Warna daun hijau dengan peruratan bercabang yang mempunyai tekstur helaian tipis.
2). Ental
Mempunyai ental yang banyak, panjang entalnya 50-100 cm,tangkai entalnya hitam, bersisik pada pangkalnya dan bagian yang tidak bersisik mengkilat. Ental tersebut menyirip ganda dua, letaknya berseling-seling, anak daun yang terletak di bagian pangkal adalah tunggal, sedangkan yang di bagian tengah dan ujungnya menyirip, yang paling ujung berlekuk dan bisa mencapai ukuran panjang 17 cm dan lebar 4-5 cm dan melancip pada bagian ujungnya.
            3). Batang
Mempunyai batang yang berbentuk bulat,panjang berkayu. Warna batang hijau,dengan permukaan adanya rambut halus serta berukuran 7mm dan dengan percabangan dikotom.
4). Akar
Mempunyai akar berbentuk serabut.
5). Sporangium
Spora adalah struktur pembiakan halus yang dihasilkan oleh paku – pakis . Terdapat berbagai bentuk spora , antaranya bulat , pipih (monolete), segitiga (trilete) dan sebagainya . Untuk melihat struktur spora tersebut , digunakan mikroskop elektron pengiaman (Scanning Electron Microscope).Dinding sporangium terdiri daripada satu atau beberapa lapisan sel , kecuali pada bahagian tepinya terdapat suatu lapisan sel berdinding tebal yang mengelilingi sebagian kapsul yang dinamakan anulus. Pada bahagian hujung lingkaran terdapat satu kumpulan sel yang pipih yang disebut stomium. Apabila sporangium masak sel stomium akan pecah dan membebaskan spora yang terdapat didalamnya. Letak dari spora pada pityrogramma yaitu menyebar di heleian daun, bentuk bulat .
6). Indusium
Indusium adalah suatu lapisan pelindung untuk melindungi sporangium terutama yang masih muda . Ada sorus yang tidak dilindungi oleh indusium yang dikenali sebagai sorus yang telanjang . Sementara yang dilengkapi dengan indusium terdapat dua jenis . Jenis yang pertama dinamakan indusium sejati yang mana lapisan tisunya berupa penutup melengkok terdiri daripada dua ruangan dengan bahagian tengah berhubungan dan mengikatkannya kepada permukaan daun . Manakala lapisan pelindung yang hanya berupa pelebaran dari bagian tepi daun yang bengkok dinamakan indusium palsu .
5.      Marattia Sp.
Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Lokasi                        : Taman hutan raya R. Soeryo Cangar Batu
Tanggal          : 11 Maret 2012
Klasifikasi :
Kingdom  Plantae
Division Pteridophyta
Class Filicopsida
Ordo Marattiales
Family Marattiaceae
Genus Marattia
Spesies Marattia sp
Deskripsi :
menunjukkan bahwa Marattia dalam arti tradisionalnya secara luas polifiletik. Nama tersebut hanya dapat disimpan dalam arti tradisional jika semua Angiopteris dan Christensenia akan digabungkan ke Marattia, meninggalkan keluarga dengan hanya 2 genera (Marattia dan Danaea). Skenario ini sangat beralasan, karena Angiopteris adalah genus morfologi mapan dan berbeda dari Marattia dalam karakter jelas banyak.Untuk mempertahankan Angiopteris dan Christensenia, Marattia karena itu dipisahkan menjadi tiga genera Eupodium, Ptisana dan Marattia.Marattia benar terjadi dalam Neotropics dan Hawaii, Eupodium hanya Neotropical dan semua spesies dunia lama dipindahkan ke dalam genus baru Ptisana.
Habitat :
Marattia adalah genus neotropical sebagian besar dari delapan jenis, tetapi satu spesies (M. douglassii) terjadi di Hawaii. Mereka biasanya terjadi di daerah pegunungan di atas ketinggian 900 m, tetapi mereka mungkin terjadi pada elevasi yang lebih rendah di pulau-pulau.Tumbuh diatas tanah, berwarna hijau, bentuknya menyerupai talus lumut hati.Terdiri dari terdapat duri yang merupakan metamorfosis daun penumpu.
Morfologi
            1). Daun
Daun sangat besar majemuk, menyirip ganda sampai beberapa kali.
2). Batang
Batang pendek tegak
3). Tangkai
Tangkai daun lunak mempunyai stipula
4). Sporangium
Sporangium pada sisi bawah daun mempunyai dinding yang tebal, tidak mempunyai cincin (anulus), membuka dengan suatu celah atau liang.
Spora Marattia sambucina dan Macroglossum smithii hasil pertama di piring dan kemudian di massa. Para gametophytes awalnya berwarna hijau gelap, tapi gametophytes tua mungkin menunjukkan jaringan pucat di pelepah yang mungkin berisi sejumlah besar pati.Rhizoids dari kedua spesies tidak berwarna; rhizoids multiseluler diproduksi kadang-kadang oleh Marattia sambucina.Antheridia menunjukkan rentang ukuran yang luas, dari yang di cabang regenerasi yang mungkin menunjukkan 15-30 sperma di bagian median untuk mereka yang gametophytes kuat 1-4 tahun yang bisa menunjukkan 140-170 sperma.Archegonium kedua spesies pendek dan luas, proyeksi tapi sedikit di luar permukaan.Dua inti saluran leher biasanya tidak dipisahkan oleh dinding, tapi kadang-kadang dinding terbentuk.Sel kanal perut besar.Lapisan jaket terdiri dari beberapa sel tabel yang lambat dalam mengembangkan dan tidak sangat berbeda sebelum pembuahan.Apogamy, ditunjukkan dalam pengembangan tracheids, ditemukan dalam dua gametophytes dari Marattia sambucina yang ditanggung baik antheridia dan archegonia.
DAFTAR PUSTAKA
Citrosupomo, Gembong. 1991. Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Retno. 2011. Tumbuhan Paku di Indonesia.
http://retnoayuseptiyaningtyas.blogspot.com/. Diakses tanggal 3 Maret 2012
Sudarsono. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: UM Press
Sulisetjono. 2011. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang: Uin Press
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 6, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: