RSS

Laporan KKL Kebun Raya PURWODADI

06 Jul

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN

TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI

DI KEBUN RAYA PURWODADI

 

Disusun oleh :

Kelompok  : 1

  1. Munawwarotur Rohmah             (10620001)
  2. Khoirur Rizkiyah                           (10620002)
  3. Ayu Kusuma Dewi                                   (10620010)
  4. Lailatul Khoiriyah                         (10620011)
  5. Nurul Mawaddah                          (10620023)
  6. Fitra Arya Dwi N.                           (10620024)
  7. Wilda Sofiah                                  (10620026)
  8. Ivani Adarsania                             (10620032)
  9. Luluk Wahyuningtiyas                (10620033)

 

 

Asisten Pembimbing    : Nuris

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2012

PENGESAHAN

 

Laporan Kuliah Kerja Lapangan dengan praktikan :

1. Munawwarotur Rohmah             (10620001)

2. Khoirur Rizkiyah                           (10620002)

3. Ayu Kusuma Dewi                                   (10620010)

4. Lailatul Khoiriyah                         (10620011)

5. Nurul Mawaddah                          (10620023)

6. Fitra Arya Dwi N.                           (10620024)

7. Wilda Sofiah                                  (10620026)

8. Ivani Adarsania                             (10620032)

9. Luluk Wahyuningtiyas                (10620033)

 

 

telah disahkan sebagai salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Taksonomi Tumbuhan pada Jurusan Biologi Fakultas Sai Dan Teknologi Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang.

                                                                                    Malang,11 April 2012

 

Koordinator Kuliah Kerja Lapangan

Asisten Pembimbing: Nuris

 

 

 

KATA PENGANTAR

Perbedaan dasar yang digunakan dalam klasifikasi tumbuhan akan memberikan hasil klasifikasi yang berbeda – beda sehingga terbentuklah sistem klasifikasi yang berlainan. Berdasarkan tingkat peradababnnya, manusia yang pertama-tama melakukan kegiatan di bidang taksonomi tumbuhan khususnya klasifikasi pasti memilah-milah dan mengelompokkan tumbuhan berdasarkan atas kesaman ciri-ciri yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia.  Seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan yang pada mulanya tidak dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalam pengklasifikasian. Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati bagian tersebut Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenentik yang mencita-citakan tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan golongan tumbuhan yang lain serta urutannya dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan.

Karena itu dengan  Berbekal pada sedikit pengetahuan akan ilmu-ilmu taksonomi maka kami sajikan beberapa jenis tumbuhan dari berbagai macam suku hasil dari penelitian berbagai macam tumbuhan di kebun raya purwodadi malang. ucapan terima kasih juga tak lupa kami sampaikan kepada bapak/ibu dosen, teman-teman dan semua pihak yang telah membantu sehingga terselesainya laporan ini dengan baik.

Penyusun sadar bahwa hasil laporan ini masih jauh dari sempurna, namun penyusun tetap berharap agar nantinya laporan KKL purwadadi ini dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri dan terlebih bagi teman-teman lainya. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan agar lebih baik lagi pada laporan-laporan selanjutnya.

 

Malang, 13 april 2012

       Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………… i

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………………………….. ii

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………….. iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………. v

DAFTAR TABEL…………………………………………………………………………………….. vi

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………………….. vii

 

BAB  I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………… 1
  2. Tujuan…………………………………………………………………………………….. 1
  3. Manfaat…………………………………………………………………………………… 2

 

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………………. 3

  1. Sruktur Vegetasi Hutan Tropika Basah…………………………………… 3
  2. Iklim Daerah Tropik…………………………………………………………………. 5
  3. Kebun Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah…………………………. 6
  4. Pengelolaan Koleksi Herbarium……………………………………………… 9

 

BAB III. METODE PENELITIAN…………………………………………………………….. 10

  1. Waktu dan Tempat Penelitian……………………………………………….. 10
  2. Alat dan Bahan …………………………………………………………………….. 11
  3. Cara Kerja……………………………………………………………………………… 19

 

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………………… 21

  1. Koleksi Herbarium…………………………………………………………………. 21
  2. Kebun Raya Purwodadi………………………………………………………… 40
  3. Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi……………………… 125

 

BAB V . KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………. 148

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………. 148
  2. Saran…………………………………………………………………………………… 149

 

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………. 151

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Pada dasarnya Taksonomi tumbuhan adalah sebuah ilmu yang mengkhususkan diri dalam kegiatan identifikasi tumbuhan serta penempatan dan pemberian nama bagi tumbuhan-tumbuhan baru. Kegiatan ini sangat dipengaruhi dari keadaan morfologi dan anatomi dari tumbuhan yang dimaksud. Karena, Klasifikasi Tumbuhan adalah proses penempatan tumbuhan ke dalam tingkatannya masing-masing berdasarkan persamaan ciri-ciri yang tampak, baik dari sisi morfologi ataupun dari segi anatominya.

Untuk itu dilakukan KKL di Kebun Raya Purwodadi ini agar siswa jurusan Biologi angkatan 2010 dapat mengerti tumbuhan apa saja yang di pelihara di Kebun Raya Puwodadi bagaimana ciri-ciri tumbuhan tersebut apakah ada ciri khusus dari masing-masing spesies. Dan di samping itu bisa untuk berekreasi, merefresh pikiran dll.

 

 

 

 

1.2  Tujuan

  1. Mengetahui tata cara pembuatan, penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Kebun Raya.
  2. Mengetahui keanekaragaman tumbuhan tingkat tinggi di Kebun Raya
  1. Mengadakan pengamatan terhadap spesies untuk mengetahui ciri khusus/karakteristik dari masing-masing spesies.       

 

 

1.3  Manfaat

  1. Mahasiswa dapat mengetahui tata cara pembuatan, penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Kebun Raya Purwodadi.
  2. Mahasiswa dapat Mengetahui keanekaragaman tumbuhan tingkat tinggi di Kebun Raya Purwodadi.
  3. Mahasiswa dapat mengadakan pengamatan terhadap spesies untuk mengetahui ciri khusus/karakteristik dari masing-masing spesies.                                                       

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sebagian besar dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau-pulau berukuran kecil yang memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan, jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya, diantaranya adalah ekosistem hutan (Irwanto, 2007).

Indonesia terletak di daerah tropik, sehingga hutan yang ada bertipe hutan tropik. Hutan ini sangat beranekaragam terhadap tipe, komposisi maupun strukturnya. Ada hutan yang tumbuh dengan baik sehingga memiliki struktur lengkap mulai dari tumbuhan tingkat bawah sampai pohon yang tingginya mencapai 100 meter (Indriyanto, 2008).

Tantangan sangat penting di bidang kehutanan saat ini salah satunya adalah membangun hutan dan menghutankan kembali hutan bekas penebangan. Alasannya adalah adanya manfaat hutan secara langsung maupun tidak langsung untuk kehidupan masyarakat di sekitarnya (Septiyani, 2010).

Hutan akan lestari apabila proses regenerasi tegakan berjalan baik, dengan melalui pemudaan alam atau buatan. Pemudaan hutan mutlak dilakukan terhadap setiap kawasan hutan agar dapat berfungsi secara maksimal dan berkelanjutan (Indriyanto, 2008). Pemudaan merupakan proses regenerasi tegakan hutan, baik mengandalkan proses alam maupun penanganan manusia. Setiap tahap proses perkembangannya, mudah tidaknya pemudaan di suatu kawasan hutan bergantung pada sifat-sifat jenis tegakan, tempat tumbuh, proses-proses daur air dan hara (Alikodra, 1997, Indriyanto, 2008).                                                                                     Taman Margasatwa yang terletak di Ragunan Pasar Minggu Jakarta, berdasarkan Perda No.13 tahun 1998 memiliki tugas pokok diantaranya melakukan konservasi, mempertahankan daerah resapan air, paru-paru kota. Sesuai dengan tugas tersebut, dalam menambah koleksi satwa, menanam dan merawat jenis tumbuhan, juga membangun kawasan konservasi. Atas dasar ini dapat memaksimalkan fungsi dan peranan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) dalam mendukung upaya-upaya konservasif, riset dan edukasi, selain disiapkan untuk menjadi tempat tujuan rekreasi atau sebuah kebun binatang yang modern. Untuk memaksimalkan fungsi dan peran tersebut, juga menanam dan merawat jenis-jenis tumbuhan dan bahkan membangun hutan di kawasan konservasi yang luasnya mencapai 6,410 Ha (Jakartazoo.org, 2008).                        Jenis-jenis pohon dapat tumbuh disuatu tempat dengan kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, termasuk tumbuhan yang ada di kawasan hutan di kawasan konservasi Taman Margasatwa Ragunan. Hal ini tergantung oleh faktor tempat tumbuh yang merupakan gabungan dari iklim dan tanah (Kadri, 1992).

 

 

  1. A.   Komposisi dan keanekaragaman jenis

 

Struktur tumbuhan adalah organisasi individu – individu di dalam ruang yang membentuk tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan. Komposisi tumbuhan merupakan jumlah jenis yang terdapat dalam suatu komunitas tumbuhan (Purborini, 2006). Menurut Kershaw (1973), struktur vegetasi terdiri dari 3 penyusun, yaitu:

  1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tihang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi.
  2. Sebaranhorizontaldari jenis-jenis penyusun komunitas yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain.
  3. Penyusun vegetasi ada 5 aras, yaitu fisiognomi vegetasi, struktur biomassa, life form ( growth form ), struktur floristik dan struktur tegakan ( Mueler-Dumbois & Ellenberg, 1974 ).

Kelimpahan (abundance) setiap jenis dalam suatu komunitas. Struktur suatu vegetasi terdiri dari individu-individu yang membentuk tegakan di dalam suatu ruang. Komunitas tumbuhan terdiri dari sekelompok tumbuh-tumbuhan yang masing-masing individu mempertahankan sifatnya (Dombois, 1974).

Struktur suatu masyarakat tumbuhan pada hutan hujan tropika basah dapat dilihat dari gambaran umum stratifikasi pohon-pohon perdu dan herba tanah. Kershaw (1973) menyatakan, stratifikasi hutan hujan tropika dapat dibedakan menjadi 5 lapisan, yaitu : Lapisan A (lapisan pohon-pohon yang tertinggi atau emergent), lapisan B dan C (lapisan pohon-pohon yang berukuran sedang), lapisan D (lapisan semak dan belukar) dan lapisan E (lantai hutan). Komposisi atau kekayaan jenis adalah jumlah jenis pada suatu area/ komunitas. Komposisi jenis suatu komunitas sangat penting karena komunitas sebagian besar ditentukan oleh dasar-dasar floristik (jenis-jenis yang terdapat dalam suatu komunitas). Beberapa komunitas memiliki fisiognomi (kenampakan luar) serupa, tetapi berbeda dalam identitas jenis dominan atas jenis penyusun lainnya (Rusmendro, 2007).

Diversitas atau keanekaragaman merupakan suatu keragaman diantara anggota suatu komunitas (Supriatno, 2001). Deshmukh (1992) mengartikan keanekaragaman sebagai gabungan antara jumlah jenis dan jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas atau sering disebut kekayaan jenis. Menurut Resosoedarmo dkk (1984), keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang ada di daerah dengan lingkungan yang ekstrim, seperti daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sementara itu keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum.

Suatu daerah yang didominansi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah. Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi, karena di dalam komunitas itu terjadi interaksi antara jenis yang tinggi. Lebih lanjut dikatakan, keanekaragaman merupakan ciri dari suatu komunitas terutama dikaitkan dengan jumlah individu tiap jenis pada komunitas tersebut. Keanekaragaman jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis (Latifah, 2004).

Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui pengaruh gangguan terhadap lingkungan atau untuk mengetahui tahapan suksesi dan kestabilan dari komunitas tumbuhan pada suatu lokasi (Odum, 1996). Menurut Ariyati dkk (2007), nilai indeks keanekaragaman rendah menunjukkan bahwa terdapat tekanan ekologi tinggi, baik yang berasal dari faktor biotik (persaingan antar individu tumbuhan untuk setiap tingkatan) atau faktor abiotik. Tekanan ekologi yang tinggi tersebut menyebabkan tidak semua jenis tumbuhan dapat bertahan hidup di suatu lingkungan.

Menurut Odum (1993) ada dua komponen keanekaragaman jenis, yaitu kekayaan jenis dan kesamarataan. Kekayaan jenis adalah jumlah jenis dalam suatu komunitas. Keanekaragaman jenis cenderung besar dalam suatu komunitas yang lebih tua. Keanekaragaman jenis cenderung kecil untuk komunitas yang baru dibentuk. Kesamarataan adalah pembagian individu yang merata diantara jenis. Pada kenyataannya setiap jenis itu mempunyai jumlah individu yang tidak sama.

  1. B.   Struktur Komunitas Tumbuhan

Untuk memudahkan dalam mengenal dan mempelajari makhluk hidup, diperlukan pengklasifikasian dengan dasar dan tujuan tertentu. Klasifikasi memiliki manfaat penting yang dapat langsung diterapkan bagi kepentingan manusia (Syamsuri, 2000).

Komunitas dapat disebut dan diklasifikasikan menurut bentuk atau sifat struktur utama, misalnya jenis dominan; bentuk-bentuk hidup, habitat fisik dari komunitas, sifat atau tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan individumasing-masing jenis (kemerataan) tidak berarti satu-satunya hal yang terlibat di dalam keanekaragaman komunitas. Pengaruh populasi terhadap komunitas dan ekosistem tidak hanya tergantung kepada jenis tertentu dari organisme yang terlibat, tetapi juga tergantung kepada jumlahnya atau kerapatan populasinya (Odum, 1993).

Komunitas adalah kumpulan populasi yang hidup pada habitat tertentu. Menurut Odum (1973), komunitas yang merupakan bagian hidup ekosistem dapat diklasifikasikan berdasarkan:

  1. Bentuk atau sifat struktur utama, seperti jenis dominan dan bentuk hidup (lifeform)
  2. Habitat komunitas
  3. Sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas.

Tipe komunitas terjadi karena adanya sifat yang berbeda dalam dominansi jenis, komposisi jenis, struktur lapisan tajuk atau juga dominansi bentuk pertumbuhan (Whittaker, 1975). Komunitas hutan merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh karena komunitas  terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan dan penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh dan stabilitasi. Perubahan dalam komunitas atau suksesi selalu terjadi, bahkan dalam komunitas hutan yang stabil pun selalu terjadi perubahan (Indriyanto, 2005).

Pada suatu suatu jenis ditentukan berdasarkan besarnya frekuensi, kerapatan dan dominansi setiap jenis. Penguasaan suatu jenis terhadap jenis-jenis lain ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting, volume, biomassa, persentase penutupan tajuk, luas bidang dasar atau banyaknya individu atau kelimpahan  (Soerianegara,1996).

Frekuensi suatu jenis menunjukan penyebaran jenis-jenis dalam areal tertentu. Jenis yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya jenis-jenis yang mempunyai nilai frekuensi kecil mempunyai daerah sebaran yang kurang luas. Kerapatan dari suatu jenis merupakan nilai yang menunjukan jumlah atau banyaknya suatu jenis per satuan luas, makin besar kerapatan suatu jenis, makin banyak individu jenis tersebut per satuan luas. Dominansi suatu jenis merupakan nilai yang menunjukan peguasaan jenis terhadap komunitas (Soerianegara,1996).

Nilai penting didefinisikan sebagai gabungan dari densitas/ kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dan dominansi relatif (DR). Kondisi ini menyebabkan nilai penting suatu jenis maksimum adalah 300% (KR=100%, FR=100%, DR=100%), bila dalam suatu tegakan hanya terdiri dari satu jenis saja (Curtis dan Mc.Intosh, 1951). Whittaker, 1975, menyebutkan bahwa nilai penting dapat ditentukan berdasarkan salah satu atau dua nilai, tetapi lebih banyak nilai dijadikan dasar akan menjadi lebih baik dan mendekati kebenaran dalam menentukan dominansi atau penguasaan jenis di dalam suatu komunitas (Rusmendro, 2003).

Pertumbuhan tumbuhan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat tumbuh seperti: kerapatan tegakan, karakteristik umur tegakan, faktor iklim (temperatur, presipitasi, kecepatan angin dan kelembaban udara), serta faktor tanah (sifat fisik, komposisi bahan kimia, dan komponen mikrobiologi tanah). Diameter merupakan salah satu dimensi pohon yang paling sering digunakan sebagai parameter pertumbuhan. Pertumbuhan diameter dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesis. Pertumbuhan diameter berlangsung apabila keperluan hasil fotosintesis untuk respirasi, penggantian daun, pertumbuhan akar dan tinggi telah terpenuhi (Latifah, 2004).

Pertumbuhan tinggi tumbuhan dipengaruhi oleh perbedaan kecepatan pembentukan dedaunan bergantung pada kualitas tempat tumbuh. Setidaknya terdapat tiga faktor lingkungan dan satu faktor genetik (intern) yang sangat nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi yaitu kandungan nutrien mineral tanah, kelembaban tanah, cahaya matahari, serta keseimbangan sifat genetik antara pertumbuhan tinggi dan diameter suatu pohon (Davis danJhonson, 1987).

Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya (Greig, 1983).

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Berdasarkan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal dan (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig, 1983).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1978) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak.

  1. C.   Kebun Raya Purwodadi  

Kebun Raya Purwodadi merupakan lembaga yang  dan bahan bangunan mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan konservasi, penelitian, dan pendidikan flora.

Adapun koleksi-koleksi yang dikelola di kebun raya purwodadi adalah

  1. Koleksi bambu, untuk kategory bambu ini kebun raya purwodadi mempunyai 30 jenis bambu, yang diantaranya diambil dari pulau jawa, sulawesi, maluku, dan dari luar negeri seperti Thailand, china, dan birma.untuk tanaman bambu ini terletak disebelah selatan kebun raya.
  2. Koleksi Palem, untuk kategori palem ini terletak ditengah kebun raya, palem ini merupakan salah satu tanaman yang berumur ratusan tahun.
  3. Koleksi Paku, untuk kategori tanaman paku ini kebun raya purwodadi mempunyai 60 jenis tanaman paku. Tanaman paku ini terletak disebelah timur kebun raya yang lokasinya dekat dengan sungai dan air terjun yang ada disana.
  4. koleksi Polong-polongan, untuk kategori polong – polongan ini kebun raya purwodadi mempunyai 157 jenis tanaman polong – polongan, yang terdiri dari 70 marga. Untuk kategori ini berada disebelah utara kebun raya.
  5. Koleksi Obat, untuk kategori ini berada di sebelah timur kebun raya,. Untuk tanaman obat ini saya belum mengetahui jelas detailnya, yang pasti saya melihat banyak buah mengkudu/pace disana.

 

Kebun Raya Purwodadi – LIPI

Jln. Raya Surabaya – Malang KM. 65

Tlp. (0341) – 426046 / 424076

(0343) – 615033

Fak. (0341) – 426046 ,(0343) – 615033

 

 

Setelah mencermati pengarahan dan penjelasan dari pemandu kebun raya tersebut yaitu Bapak kiswoyo, beliau menerangkan tentang berbagai banyak family kemudian ke spesiesnya. Adapun famili-famili tersebut slah satunya adalah:

  1. Fabaceae adalah nama botani untuk sebuah famili tumbuhan yang besar, yang terdiri dari tiga subfamili, yaitu Caesalpinioideae, Mimosoideae dan Faboideae (padanannya dalam Leguminosae ialah Papilionoideae). Subfamili Mimosoideae dan Caesalpinioideae terkadang dinaikkan ke peringkat famili Mimosaceae dan Caesalpiniaceae, sehingga mempunyai dua nama botani yaitu Fabaceae atau Papilionac eae.

Leguminosae (atau Fabaceae sensu lato) ialah famili tanaman berbunga yang kedua besar, dengan 650 genus dan melebihi 18.000 spesies.Spesies-spesies ini merupakan kacang-kacangan dan famili ini terdiri daripada beberapa sumber makanan yang paling bernilai, seperti kacang, kacang pea, kacang tanah, kacang soya, dan lentil.Spesies yang lain merupakan sumber makanan hewan, dan termasuk lupin, klover, alfalfa, cassia, dan kacang soya. Genus seperti Laburnum,  Robinia,  Gleditsia,  Acacia,  Mimosa, dan Delonix merupakan tanaman hias. Spesies-spesies yang lain mempunyai sifat pengobatan atau insektisida, umpamanya Derris, ataupun menghasilkan bahan-bahan yang penting seperti gam arab, tanin, pewarna, atau damar. Terdapat juga tanaman khusus, satu spesies Asia timur yang pernah ditanam di bahagian tenggara Amerika Serikat untuk perbaikan tanah dan sebagai makanan lembu.Penanaman spesies ini telah dihentikan karena tanaman ini telah menjadi gulma yang tumbuh di mana-mana.

Secara umum, tumbuhan-tumbuhan legum ini dikelaskan kepada tiga subfamili (terkadang dinaikkan ke peringkat famili dalam order Fabales), berdasarkan morfologi bunga, khususnya bentuk kelopaknya:

a)    Caesalpinioideae (Caesalpiniaceae): Bunganya bersifat zigomorph, tetapi amat berbeda, seperti bunga Cercis kelihatan amat serupa dengan bunga Faboideae, dan bunga Bauhinia mempunyai lima kelopak yang sama besar dan bersimetri.

b)    Mimosoideae (Mimosaceae): Kelopaknya kecil dan sering berbentuk globos atau spikat, dengan stamen yang merupakan bahagian bunga yang paling menonjol.

c)    Faboideae atau Papilionoideae (Fabaceae sensu strictu atau Papilionaceae): Salah satu daripada lima kelopaknya adalah besar serta mempunyai garis. Dua kelopak yang bersebelahannya terletak di tepi bunga, sedangkan dua kelopak yang tinggal terletak di bahagian bawah bunga dan digabungkan pada pangkalnya untuk membentuk struktur.

  1. Herba atau perdu, jarang pohon. Daun tersebar atau berpasangan (tetapi tidak berhadapan), tunggal atau menyirip. Bunga beraturan, kadang-kadang zygomorph, berkelamin 2, kadang-kadang berkelamin 1, kebanyakan berbilangan 5, dengan kelopak dan mahkota yang berdaun lekat; mahkota berbentuk corong bentuk terompet, bentuk piring atau bentuk roda; benang sari 5, jarang 4; kepala sari sering menggantung atau saling menutup, beruang 2; bakal buah menumpang, kebanyakan beruang 2; bakal biji banyak tiap ruangnya; tangkai putik 1, bentuk benang. Buah buni atau buah kotak (Steenis,1978).

 

      Genus: Brugmansia, Brunfelsia, Capsicum, Cestrum, Solandra, Solanum.

Genus: Solandra

      Spesies:Solandra hitida

      Sifat Fisik

Tanaman ini disebut juga cangkir mas, memiliki bunga yang muncul di ujung

tangkai menjulur, agak besar menyerupai piala. Mahkota bunganya pendek

berkerut, berwarna kuning lembut dengan garis coklat di bagian dalam.

 

 

Daunnya besar-besar berukuran 10-15 cm, tebal, berbentuk lonjong, dan berwarna hijau. Dahan tanaman ini mengandung zat kayu yang keras (Emir dkk, 2006).

 

      Sifat Ekologis

Tumbuh baik di tempat terbuka atau sedikit terlindung sinar  matahari dengan penyiraman secukupnya. Perbanyakan dengan cangkok atau stek batang.Kegunaan dalam Lanskap Tanaman ini digunakan sebagai penghias pergola dan pagar.

 

 

 

 

 

  1. Annonaceae

Annonaceae, juga disebut suku sirkaya-sirkayaan adalah suku dari tanaman berbunga yang terdiri dari pohon-pohon, semak atau jarang lianas.Dengan kira-kira 2300-2500 spesies dan lebih dari 130 genera, Annonaceae adalah famili terbesar di ordo Magnoliales.Hanya empat genera, Annona, Rollinia, Uvaria dan Asimina menghasilkan buah-buahan yang dapat dimakan. Suku ini terkonsentrasi di daerah tropis, sekitar 900 spesies Neotropical, 450 adalah Afrotropical, dan spesies lain Indomalayan.

DESKRIPSI UMUM

Habitus : Kebanyakan berupa pohon atau semak, beberapa liana dengan kulit batang, daun, dan bunga aromatic. Hidup di daerah tropis.
Habitus Annonaceae

Batang dan Daun : Kulit batang berserat dan aromatik, empulur terpisah (baik secara tangensial maupun partisi). Percabangan simpodial dapat juga dikotom. Daun tunggal atau majemul, tulang daun menyirip.Duduk daun tersebar atau berseling, tanpa daun penumpu..

 

Bunga : Tangkai bunga aksilaris ,meninggalkan bekas pada batang yang tua atau pada tunas-tunas daun yang baru. Bunga biasanya trimerous; ditanggung sendiri-sendiri atau dalam senyawa inflorescences; biseksual dan jarang berkelamin tunggal.Reseptakel mungkin menjadi membesar, peningkatan atau flat.Biasanya dua gigih untuk empat daun yang berbeda atau bawaan (menyatu) di pangkalan.Bunga banci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, biasanya berbilangan 3, seringkali mempunyai 2 lingkaran daun-daun mahkota. Benangsari banyak, bakal buah 1 sampai banyak, bebas satu sama lain, masing-masing berisi banyak atau 1 bakal biji saja, letaknya pada kampuh perut atau basal, tiap bakal biji mempunyai 2 integumen Bermacam-macam bungaAnnonaceae
Buah dan Biji : Buah kebanyakan berupa buah buni, kadang-kadang berupa buah buni ganda. Biji dengan endosperm berbelah dan lembaga yang kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1  Waktu Dan Tempat

KKL tersebut dilakukan di jalan Raya Malang Surabaya di kebun Raya Purwodadi mulai dari pukul 07.00-15.00.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Codiaeum  variegatum (Puring)

 

  1. KLASIFIKASI

Kingdom Plantae

Divisi Spermatophyta

Subdivisi Angiospermae

Kelas Dicotyledoneae

Ordo Euphorbiales

Famili Euphorbiaceae

Genus Codiaeum

Spesies Codiaeum  variegatum

  1. HABITUS

Habitus dari tumbuhan Puring (Codium variegatum) adalah perdu.

 

  1. HABITAT

Tanaman ini tumbuh tersebar dari daerah beriklim panas hingga daerah subtropika.hingga saat ini belun ada data pasti yang menunjukkan asal tanaman ini , menurut beberapa sumber pustaka puring sudah lama ada di Indonesia dan pertama kali ditemukan di kepualauan Maluku yang dimanfaatkan sebagai tanaman palgar atau pekuburan.

Tanaman Puring di Indonesia dapat tumbuh di dataran rendah ataupun di dataran tinggi, dengan ketinggian mencapai 1.500 m dpl.Untuk mendapatkan warna yang jelas dan cerah yakni dengan intensitas cahay yang penuh dan temperature udarah sekitar 20-35 derajat celcius.puring tidak membutuhkan bannyhak air sehingga puring dapat tumbuh didaerah kering, yakni kelembapan udara sekitar 30%-60%.

Tanama puring sering dijuluki tanaman kuburan, karena dapat tumbuh diberbagi jenis tanah, tidak memerlukan jenis tanah khusus.Puring tumbuh mulai dari jenis tanah yang berat, lempung berpasir, hingga tanah ringan.Sebagai tanaman yang dibudidayakan Puring dapat ditanam di Pot atgau di kebun terbuka.untk mendapatkan tanaman yhang baik, dibutuhkan jenis tanah yang banyak mengandung zat organik, subur dan gembur. sertag tanha berkisar 5-8.

 

  1. DESKRIPSI
    1. Daun

Bentuk daun tanaman Puring bervariasi, ada yang berbentuk pita yang panjangnya 5cm-30 cm, elips obling, bulat, hingga seperti ujung tombak. perukaan daun ada yang rata, begelombang, dan berpilin. warna daun juga bervariasi, ada yang berwarna hijau tua polos dan ada juga yang memiliki lebih dari 3 macam warna, dengan variasi hijau, cpklat, merah, biru dan kuning. Coraknya ada yang berbintik-bintik, bergaris-garis dan belang-belang.

  1. Tangkai

Tangkainya berbentuk silindris, mempunyai tegkstur kasar, berwarna coklat, dan tidak berkambium.batangnya kecil mudcah dipatahkan, dan juga berkayu, bergetah yang berwarna bening hingga putih.

  1. Bunga

bunganya termasuk bunga telanjang, denagn benang sari yang banyak dan tersusun berangkai dalam satu bunga. biasanya bunganya berwarna putih, penyerbukannya dibantu leh angin.

  1. Manfaat

Tanaman Puring selain sebagai penghias pagar dan pekarangan rumah pucuk daun mudanya juga dapat dimanfaatkan sebagai lalapan, tanaman hias, dan obat-obatan tradisional.kegunaan penting antara lain sebagai berikut :

  1. Akar dan kulit tanaman Puring digunakan untuk menyamak kulit karena tanaman puring mengandung zat penyamak.
  2. Air rebusan daun puring bisa digunakan untuk memperlancar keluarnya keringat, caranya air rebusan tersebut digunakan untuk mandi.
  3. air rebusan daunPuring juga bisa dimanfaatkan untuk mengibati penyakit panas. dengan cara meminum air rebusan tersebut.
  4. Air rebusan daun puring dengan jenis air mancur bisa digunakan untuk ,engobati penyakit raja singa.
  5. Mengobati penyakit diare. dengan  cara mengambil bagian babagan dari tanaman terus merebusnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2 Lannea coromandalica

 

  1. KLASIFIKASI

Kingdom Plantae

Divisi Magnoliphyta

Kelas Magnoliopsida

Ordo Sapindales

Famili Anacardiaceae

Genus Lannea

Spesies Lannea coromandalica

Nama Daerah :

  • Jawa : Ki Kuda (Sunda), Kedondong (Jawa Tengah), Kayu Palembang (Madura), Santen (Banyu wangi)
  • Sumatera : Kayu Kuda (Melayu)

 

  1. HABITUS

Perawakan atau habitus dari Lannea coromandalica adalah Pohon.

 

  1. HABITAT

Tanaman ini tumbuh tersebar dari daerah beriklim panas hingga daerah subtropika.hingga saat ini belun ada data pasti yang menunjukkan asal tanaman ini ,Tanaman ini di Indonesia dapat tumbuh di dataran rendah ataupun di dataran tinggi, dengan ketinggian mencapai 1.500 m dpl. Untuk mendapatkan warna yang jelas dan cerah yakni dengan intensitas cahay yang penuh dan temperature udarah sekitar 20-35 derajat celcius.puringtidak membutuhkan bannyhak air sehingga puring dapat tumbuh didaerah kering, yakni kelembapan udara sekitar 30%-60%.

 

  1. DESKRIPSI
    1. Daun

Bentuk daun Majemuk, menyirip, anak daun lirna sampai lima belas, berhadapan, bertangkai pendek, bentuk bulat memanjang, ujung dan pangkal runcing, pertulangan menyirip. panjang 6-10 cm,lebar 25-50 mm, hijau.

  1. Bunga

Bunganya berbentuk  Majemuk, bentuk malai, kelopak panjang ± 1 mm, benang sari delapan sampai sepuluh, kuning, putik empat, pendek, kuning kehijauan.

  1. Buah

Buahnya berbentuk buah  Buni, bulat memanjang, masih muda hijau setelah tua hijau kuning.

  1. Biji

Mempunyai biji yang berbentuk Bulat, berserat dan berwarna putih.

  1. Akar

Mempunyai bentuk akar  Tunggang, putih kotor.

  1. Batang

Bentuk batangnya berkayu, bulat, bercabang, bekas daun nampak jelas, masih muda hijau setelah tua putih kehijauan

 

  1. MANFAAT

Manfaat dari tumbuhan Lannea coromandalica, adalah sebagai berikut :

  1. Kulit batangnya berkhasiat sebagai obat mencret dan obat sariawan. Untuk  obat mencret dipakai ± 15 gram kulit
  2. batang  segarnya,  dicuci  lalu  dipotong  kecil-kecil,  direbus  dengan  2  gelas  air  selama  15  menit  setelah  dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore.

4.3 SIMPUR AIR(Dillenia suffruticosa)

 

Bunga yang masih muda                                             Bunga yang sudah tua

1.Klasifikasi
Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    Spermatophyta (Menghasilkan biji)
DivisI  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas    Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas   Dilleniidae
Ordo  Dilleniales
Famili  Dilleniaceae (suku simpur-simpuran)
Genus  Dillenia
Spesies: Dillenia suffruticosa Griff. ex Hook

2.Deskripsi

CIRI-CIRI

-Daun sederhana,Urat daun menyirip

-Tangkai daun bersayap sepanjang seluruh panjang daun

-Bunga sekitar 95mm,kuning,terkadang di atur dalam cluster terang

-Buah sekitar 23mm kapsul,merah panjang,pecah,biji dengan aril merah

-Tinggi hingga 700m di atas permukaan laut

 

Tumbuhan berbentuk pohon, berumur menahun (perenial), tinggi 10 – 15 m. Akar tunggang.Batang aerial, berkayu, silindris, tegak, warna cokelat kehijauan, kulit tanpa alur, permukaan kasar, percabangan simpodial (batang utama tidak tampak jelas), arah cabang miring ke atas atau mendatar. Daun tunggal, bertangkai, tersusun selang-seling (alternate), warna saat muda cokelat kemerahan – setelah dewasa hijau, panjang 15 – 20 cm, lebar 5 – 7 cm, bentuk lonjong memanjang (oblongus), ujung runcing (acutus), pangkal tumpul (obtusus), tepi bergerigi (serratus), pertulangan menyirip (pinnate), permukaan halus (glaber), tidak pernah meluruh Bunga tunggal, muncul dari ketiak daun (axillaris) atau ujung batang (terminalis), bertangkai pendek, panjang mahkota 2 – 3 mm, 5 helai, tidak berlekatan (polypetalus), warna kelopak hijau Buah buni (bacca), bulat Perbanyaan Generatif (biji).

HABITAT DAN EKOLOGI

Terutama di hutan sekunder atau dalam pembukaan lahan di hutan-hutan tidak terganggu, bahkan di Keranga – kesehatan hutan di tanah podsolik dari tropis serta sepanjang sungai.Kebanyakan pada aluvial (tanah aluvial) seperti Rawa, hutan bakau, tepi sungai, tapi kadang-kadang juga ditemukan di bukit dan pegunungan.Pada liat ke tanah berpasir. Pembungaan terus menerus, setiap bunga terbuka untuk satu hari saja, di antara dua bunga dari buah yang sama adalah jarak sekitar 3-4 hari. Pemasakan buah setelah 36 hari.

 

Manfaat

Sifat obat daun dan akar digunakan dalam nyeri peradangan, gatal-gatal, sakit perut, dan meringankan setelah melahirkan.Selanjutnya, tanaman ini digunakan untuk ritual keagamaan dan sebagai tanaman hias.Benih sebagai pakan burung.Dalam keadaan darurat buah ini dapat di makan mentah.

 

 

 

 

 

4.4 Buah kawista (Limonia acidissima)

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

 

 

Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas  Rosidae
Ordo  Sapindales
Famili  Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
Genus  Limonia
Spesies: Limonia acidissima L.

 

Habitat

Pohon Kawista tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering.Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl.

Kawista tumbuh alami di daerah Sri Lanka, India, Myanmar, dan Indocina, kemudian menyebar hingga ke Malaysia dan Indonesia.Pohon Kawista juga sudah diintrodusir ke Amerika. Di Indonesia, Kawista tumbuh alami di daerah pesisir utara pulau Jawa.

Habitus :pohon

 

Akar 

Akarnya berupa akar tunggang

Batang

Batang anakannya ramping, sedikit berbiku-biku (zigzag); 1-4 lembar daun pertama berbentuk daun tunggal. Pohon kawista memperlihatkan pola perkembangan yang sederhana, yaitu

Daun

Daunnya majemuk berukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan rakis dan tangkainya yang bersayap sempit; anak daunnya berhadapan, 2-3 pasang, anak daun ujung berbentuk bundar telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, memiliki kelenjar minyak, dan jika daun diremas mengeluarkan sedikit aroma

Bunga

Bunga Kawista biasanya bergerombol dengan warna putih atau hijau dan kemerahan.Bunga keluar dari ketiak daun atau terletak di ujung ranting.Bunga jantan dan bunga sempurnanya berbilangan lima, berwarna putih, hijau atau lembayung-kemerahan, biasanya bergerombol dalam perbungaan yang kendur, terletak di ujung ranting atau di ketiak daun.

Biji

Bijinya berukuran panjang 5-6 mm, berbulu, berkeping biji tebal dan berwarna hijau; perkecambahannya epigeal.

Buah 

Buahnya bertipe buah buni, berkulit keras, berdiameter sampai 10 cm; permukaan kulitnya bersisik, terlepas-lepas, berwarna keputih-putihan; daging buahnya yang harum itu berisi banyak biji yang berlendir. Buah Kawista yang telah cukup masak akan jatuh dengan sendirinya. Karena kulit buahnya yang keras, meskipun jatuh buah ini tidak akan rusak.

 

 

 

Manfaat

Kawista dapat dimakan langsung.Atau diolah menjadi berbagai komoditas seperti sirup dan dodol.Selain itu Buah kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum.

Kulit batang pohon Kawista dipercaya juga dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.

Di Sri Lanka, krim kawista merupakan hasil olahan dari daging buahnya. Di India juga buah kawista dimanfaatkan dengan cara yang bersamaan dengan kerabat dekatnya yaitu maja (Aegle marmelos (L.) Correa), tetapi tidak dapat menggantikan maja itu.

Kayu kawista digunakan untuk bangunan rumah, tiang dan perabotan pertanian. Getah yang dikumpulkan dari kulit kayunya dilaporkan memiliki manfaat obat, dan digunakan sebagai pengganti gom arab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.5 Peperomia pellucida 

 

 

 

Klasifikasi tanaman Suruhan (Peperomia pellucida)

 

Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Anak divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Anak kelas : Magnoliidae

Bangsa : Piperales

Suku : Piperaceae

Marga : PeperomiaJenis :

Spesies Peperomia pellucida

Diskripsi :

Peperomia pelusida adalah, tahunan dangkal-berakar ramuan, biasanya tumbuh hingga ketinggian sekitar 15 sampai 45 cm. itu ditandai dengan batang sukulen, mengkilap, berbentuk hati, daun berdaging dan kecil, dot-seperti biji yang melekat pada paku berbuah beberapa. Memiliki bau mustard seperti bila diremas.Para Piperaceae keluarga terdiri dari sekitar selusin genera dan sekitar 3000 spesies.Para Peperomia genus mewakili hampir setengah dari Piperaceae dengan genus Piper membuat sebagian besar sisanya.

Batang :

Tinggi batang 20 sampai 40 cm, berair, bercabang, bulat, tebalnyasekitar 5 mm, warnanya hijau pucat

Daun :

Daun tunggal letaknya berseling,bentuk bundar telur melebar dengan ujung meruncing, pangkalnyamembentuk jantung, tepi rata, panjang 1-3 cm, permukaan atas hijaupucat mengkilap, permukaan bawahnya lebih muda dan agak kelabu.

 

Bunga :

Bunga tersusun dalam rangkaian berbentuk bulir yang panjangnya 1-6cm, warnanya hijau, di ujung tangkai dan ketiak daun. Buah berbentuk bulat, ujung runcing, sangat kecil dengan diameter kurang dari 1 mmtersusun seperti buah lada, berbentuk bujur dan berwarna hijau ketikamuda dan coklat apabila matang mempunyai minyak sari apabila dimasak.Herba ini tumbuh menegak.

 

 Habitat :

Herba Suruhan (P. pellucida) tumbuh liar dan biasanya menggerombol. Mudah dijumpai di kebun, di halaman rumah, tepi jalan, dipinggiran selokan, dan di tempat lain yang lembab atau berair. Peperonia, bersama dengan krokot dan Talinium triangulare, adalah salah satu herbal yang dapat dimakan yang dapat ditemukan tumbuh keluar dari celah-celah trotoar dan di relung meninggalkan seluruh kota, sedikit orang yang memahami bahwa itu adalah daun dimakan sangat baik, dengan rasa yang halus, mengingatkan ketumbar. Ia memiliki akar sangat dangkal dan batang sukulen (juga makan), itu relawan itu sendiri dan tumbuh secara luas di seluruh pembibitan saya, biasanya menyebarkan diri di dasar pohon dalam pot yang lebih besar.

Kegunaan :

 

Herba Suruhan menunjukkan aktivitas agen antibakteri Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa ,dan Escherichia coli . Herba suruhan juga biasa digunakan sebagaianalgetik, obat asam urat,Antipiretik, dan memberikan efekneurofarmakologi

 

4.6 Solanum lycopersicum

 

 

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum
Spesies: Solanum lycopersicum L.

 

Diskripsi :

(Solanum lycopersicum) atau lebih dikenal dengan nama tomat adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Solanum lycopersicum merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter.Solanum lycopersicum merupakan keluarga dekat dari kentang (Anonim,2009)

Solanum lycopersicum  biasanya tanaman setahun (annual) di wilayah iklim dingin atau tanaman tahunan berumur pendek di daerah tropika. Tanaman ini tumbuh dengan tinggi 0,5-2,0 m, dengan batang padat dan gemuk serta memiliki tinggi kurang dari 30 cm.  Solanum lycopersicum  memiliki akar tunggang yang kuat dan dalam, beberapa spesies kadang – kadang mencapai kedalaman 3 m. Daun Solanum lycopersicum  adalah daun majemuk menyirip daun majemuk menyirip letak berseling – seling (interrupte pinnatus), bergerigi kasar (serratus) dan sering kali keriting, tetapi kadang juga rata.

 

Habitus :

Solanum lycopersicum   atau tomat berasal dari Amerika tropis, ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1–1600 meter di atas permukaan laut.Pengembangan budidayanya semakin meluas di berbagai negara di dunia, termasuk kawasan Asia. Di Filipina, tanaman Solanum lycopersicum   diperkenalkan pada tahun 1571, kemudian ditanam di negara lainnya di Asia. Masuknya tanaman Solanum lycopersicum   ke Indonesia diduga pada tahun 1811.Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Terna setahun (annual) ini tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,5–2,5 meter, bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat. Batang bulat, bercabang mulai dari ketiak daun yang berada dekat dengan tanah, kulit batang berwarna hijau dan berbulu.menebal pada buku-bukunya, berambut kasar dan warnanya hijau keputihan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

 

Habitat :

Buah Solanum lycopersicum  ditanam sebagai tanaman buah di ladang, pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1–1600 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini tidak tahan hujan, sinar matahari terik, serta menghendaki tanah yang gembur dan subur. Terna setahun (annual) ini tumbuh tegak atau bersandar pada tanaman lain, tinggi 0,5–2,5 meter (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

Akar ( Radix)

Perakaran Solanum lycopersicum  merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama dan akar-akar lateral yang mengeluarkan serabut-serabut akar yang berwarna keputih-putihan yang menyebar ke semua arah hingga kedalaman 30-40 cm. Panjang akar utama berkisar 35 – 50 cm dan akar-akar lateral menyebar sekitar 35 – 45 cm.

Batang ( Caulis )

Batang Solanum lycopersicum   bercabang banyak, berambut, dan berbau kuat.Batang bulat, menebal pada buku-bukunya, berambut kasar warnanya hijau keputihan.Kelenjar bulu kecil yang terdapat pada batang, daun dan tangkai bunga memiliki bau tajam.

Batang utama Solanum lycopersicum   tegak lurus dan kokoh, pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru, namun tunas-tunas ini harus dibuang sampai batang utama menghasilkan cabang primer yang membentuk dua batang yang sama besarnya berbentuk huruf “Y”, dan tunas-tunas lateral yang tumbuh pada kedua batang di atas cabang primer juga harus dibuang, sehingga batang yang dipelihara adalah dua batang utama yang tumbuh dari cabang primer.

Daun ( Folium)

Daun Solanum lycopersicum  Daun Solanum lycopersicum   tumbuh di dekat ujung dahan atau cabang, daun majemuk menyirip letak berseling – seling (interrupte pinnatus), bangun daun (circumscriptio) bentuknya bundar telur sampai memanjang (orbicularis), ujung daun (apex) runcing (acutus), pangkal daun (basis) membulat (rotundatus), pertulangan daun (nervatio) menyirip (penninervis), helaian daun yang besar tepinya berlekuk, helaian yang lebih kecil tepi (margo) daunnya bergerigi kasar (serratus), daging daun (intervenium) tipis lunak (herbaceus), permukaan helaian daun berbulu halus dan rapat (villosus), dengan panjang 3-25 cm dan lebar 2-15 cm, warnanya hijau muda, tangkai daun berbentuk bulat memanjang.

 

Bunga ( Flos )

Bunga Solanum lycopersicum   merupakan bunga majemuk, terletak dalam rangkaian bunga yang terdiri atas 4-14 kuntum bunga yang menggantung pada rangkaian bunga, berkumpul dalam rangkaian berupa tandan datar (racemosa) lebar, bertangkai, mahkota berbentuk bintang, warnanya kuning. Bunga Solanum lycopersicum   adalah bunga sempurna (completes), berdiameter sekitar 2 cm dan sering menggantung dengan mahkota bunga (corrola) berbentuk seperti terompet (hypocrateriformis) berwarna kuning yang terdiri dari kelopak bunga (calyx) 5 kelopak terdiri atas daun-daun kelopak yang berlekatan, mahkota bunga (corrola) 5 dengan menyirap, benang sari (stamen) 5, dan putik (pistillum) 2 dengan bakal buah tenggelam (inferus). Benang sari dan putik terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaphroditus) dan bunga yang bersimetri banyak (actinomorpus). Bunga tidak menghasilkan madu, walaupun penyerbukan silang, biasanya dengan perantaraan serangga, terjadi dengan frekuensi yang beraga.

 

Buah ( Fruktus)

Buah pada Solanum lycopersicum  buah buni (beri) berdaging, permukaannya agak berbulu ketika masih muda, tetapi halus ketika matang. kulitnya tipis licin mengkilap, beragam dalam bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Buah sebagian besar kultivar berbentuk bundar, bentuk lain adalah memanjang, plum dan lir-pir. Pada beberapa kultivar, cuping daun buah (lobe) terlihat jelas, suatu tanda bahwa buah memiliki banyak bakal buah.

 

 

Biji ( Semen)

Ketika matamg biji pada Solanum lycopersicum  dikelilingi oleh bahan gel yang normalnya memenuhi rongga buah. Buah biasanya mengandung banyak biji, yang berbentuk  pipih, kecil, licin dan warnanya krem muda hingga kecokelatan. Biji biasanya memiliki panjang 2-3 mm; sekitar 300-350 biji berbobot 1 g

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.7 Buah Kepel (Stelechocarpus burahol)

 

1. Klasifikasi

Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas  Magnoliidae
Ordo  Magnoliales
Famili  Annonaceae
Genus  Stelechocarpus
Spesies  Stelechocarpus burahol

2. Deskripsi

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan.Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.

 

1)    Daun

Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar    5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap.Bunga berkelamin tunggal, harum.Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16.Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.

2)    Buah

Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya.Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.

3)    Habitat dan Persebaran.

Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia.Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka.Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.

4)    Manfaat :

Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan.Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB).Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga  dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

 

4.8 Rhoeo spathacea

 

  1. 1.    KLASIFIKASI
    Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
    Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
    Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
    Sub Kelas: Commelinidae
    Ordo: Commelinales
    Famili: Commelinaceae
    Genus: Rhoeo
    Spesies: Rhoeo spathacea
  2. 2.    NAMA UMUM

Nama indonesia      : Nanas Kerang

  1. 3.    HABITUS

Habitus Semak, tinggi 40-60 cm.

  1. 4.    DESKRIPSI

1)    Batang

Batang Kasar, pendek, lurus, coklat.

2)    Daun

Daun Tunggal, lonjong,ujung runcing, pangkal memeluk batang, tepi rata, panjang 25-30 cm, lebar 3-6 cm,permukaan atas hijau, permukaan lainnya merah kecoklatan.

3)    Bunga

Majemuk, bentuk mangkok, di ketiak daun, terbungkus kelopak seperti kerang, benang sari silindris, banyak, putih, kepaia putikkuning, mahkota bentuk segitiga, tiga lembar, putih.

4)    Akar

Serabut, kecoklatan.

5)    Manfaat

Manfaat dari Rhoeo spathacea adalah

  • Daun dan bunga Rhoeo spathacea berkhasiat sebagai obat batuk.
  • Untuk obat batuk dipakai 115 gram daun segar Rhoeo spathacea, dicuci, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum dua kali sama banyak selang 2 jam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.9  Guazuma ulmifolia

 

 

  1. 1.    KLASIFIKASI

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales
Famili: Sterculiaceae
Genus: Guazuma
Spesies: Guazuma ulmifolia

  1. 2.    NAMA DAERAH

Jawa               :  Jati londa atau jatos landi; Jati belanda (Banyuwangi)

Sumatra         : Jati Belanda

  1. 3.    HABITUS

Tumbuhan berupa semak atau pohon, tinggi 10 m sampai 20 m, percabangan ramping

 

 

  1. 4.    DESKRIPSI

1)    Akar

Akarnya berupa akar tunggang, berwarna putih kecoklatan.

2)    Batang

Batan Keras,  bulat,  permukaan  kasar,  banyak alur, berkayu, bercabang, berwarna  hijau keputihan.

3)    Daun

Daun tungal berbentuk bulat telur sampai lanset, panjang helai daun 4 cm sampai 22,5 cm, lebar 2 cmsampai  10  cm,  pangkal  daun  menyerong  berbentuk  jantung  yang  kadang-kadang  tidak setangkup,  bagian  ujung  meruncing  dan  tajam,  permukan  daun  bagian  atas  berambut  jarang, permukaan bagian bawah berambut rapat, permukan kasar; panjang tangkai daun 5 mm sampai 25  mm,  mempunyai  daun  penumpu  berbentuk  lanset  atau  berbentuk  paku,  panjang  3  mm sampai  6  mm,  tepi  atau  pinggir  daun  bergerigi,  ujung  runcing,  pangkal berlekuk,  pertulangan menyirip,  berseling,  serta  berwarna  hijau  kecoklatan  sampai  coklat  muda.  Daun   majemuknya berseling dan berbentuk menjari. Daun memiliki stipula (daun  penumpu) namun biasanya gugur.

4)    Bunga

Perbungaan  berupa  mayang  terletak  di  ketiak  daun,  panjang  2  cm  sampai  4  cm,  berbunga. banyak, bentuk bunga bulat agak ramping dan berbau wangi; panjang gagang bunga lebih kurang 5  mm;  kelopak  bunga  lebih  kurang  3  mm;  mahkota  bunga  berwarna  kuning,  panjang  3  mm sampai  4  mm;  tajuk  terbagi  dalam  2  bagian,  berwarna  ungu  tua  kadang-kadang  kuning  tua, panjang  3  mm  sampai  4  mm,  bagian  bawah  berbentuk  garis,  panjang  2  mm  sampi  2,5  mm tabung benang sari berbentuk mangkuk, tangkai 1-1,5 cm, hijau muda.

5)    Buah

Berbentuk  kotak, bulat, keras, permukaan berduri bakal buah berambut,  panjang buah 2 cm sampai  3,5  cm.  Buah  yang  belum  masak  berwarna  hijau  dan  yang  telah  masak  berwarna hitam. Banyak dihasilkan ketika musim penghujan.

6)    Biji

Kecil, keras, diameter ± 2 mm, berwarna coklat muda.

 

  1. 5.    MANFAAT

Manfaat dari Guazuma ulmifolia adalah sebagai berikut

  • Secara  tradisonal,  daun  jati  belanda  berkhasiat  sebagai  obat  pelangsing  tubuh  dan  menurunkan  kadar  lemak tubuh.
  • Buah atau daun jati belanda membantu pengobatan diare, batuk, dan nyeri perut.
  • Bijinya dapat digunakan sebagai obat sakit perut, obat mencret dan kembung
  • Buahnya  dapat digunakan sebagai obat batuk,
  • Dekok kulit batang dapat digunakan sebagai obat malaria, diare dan sifilis.
  • Kulit batang Jati belanda membantu pengobatan  diaforetik,  bengkak  kaki,
  • Jati  belanda  juga  dapat  digunakan  untuk  mengobati  influenza  (flu),  pilek, disentri, luka dan patah tulang.
  • Ekstrak dari daunnya dapat menekan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Shigella dysenteria, dan Bacillus subtilis secara in vitro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            4.10 Ficus septica

 

 

  1. 1.    Nama tanaman

Nama daerah : Kiciyat (Sunda),  Awar-awar (Jawa Tengah, Belitung), Barabar (Madura),  Sirih popar (Ambon), Bei, Loloyan (Minahasa); Tobotobo (Makasar); Dausalo (Bugis); Bobulutu (Halmahera Utara); Tagalolo (Ternate) (Hutapea, 1991).

Nama asing : Papua Nugini : Omia (Kurereda), Manibwohebwahe (Wagawaga, Milne Bay), Bahuerueru (Vanapa); Filipina: Hauili (Filipino), Kauili (Tagalog), Sio (Bikol).

Nama simplisia adalah Fici septicae folium (daun awar-awar).

2. Klasifikasi tanaman

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Urticales

Suku : Moraceae

Marga :Ficus

Jenis :Ficus septica Burm. F. (van Steenis, 1975)

3. Uraian tanaman

Pohon atau semak tinggi, tegak 1-5 meter.Batang pokok bengkok-bengkok, lunak, ranting bulat silindris, berongga, gundul, bergetah bening. Daun penumpu tunggal, besar, sangat runcing, daun tunggal, bertangkai, duduk daun berseling atau berhadapan, bertangkai 2,53 cm. Helaian berbentuk bulat telur atau elips, dengan pangkal membulat, ujung menyempit cukup tumpul, tepi rata, 9-30 x 9-16 cm, dari atas hijau tua mengkilat, dengan banyak bintik-bintik yang pucat, dari bawah hijau muda, sisi kiri kanan tulang daun tengah dengan 6-12 tulang daun samping; kedua belah sisi tulang daun menyolok karena warnanya yang pucat. Bunga majemuk susunan periuk berpasangan, bertangkai pendek, pada pangkalnya dengan 3 daun pelindung, hijau muda atau hijau abu-abu, diameter lebih kurang 1,5 cm, pada beberapa tanaman ada bunga jantan dan bunga gal, pada yang lain bunga betina. Buah tipe periuk, berdaging , hijau-hijau abu-abu, diameter 1,5-2 cm. Waktu berbunga Januari-Desember. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa dan Madura; tumbuh pada daerah dengan ketinggian 1200 m di atas permukaan laut, banyak ditemukan di tepi jalan, semak belukar dan hutan terbuka.

4. Kandungan dan Manfaat Tanaman

Daun Ficus septicamengandung senyawa flavonoid genistin dan kaempferitrin, kumarin, senyawa fenolik, pirimidin dan alkaloid antofin, 10S,13aR-antofin N-oxide, dehidrotylophorin, ficuseptin A, tylophorin, 2-Demetoksitylophorin, 14α-Hidroksiisotylopcrebin N-oxide, saponin triterpenoid, sterol (Wu et al., 2002 cit Lansky et al., 2008, Yang et al., 2005, Damu et al., 2005). Akar mengandung sterol dan polifenol (Hutapea, 1991). Alkaloid yang terkandung pada batang antara lain adalah fenantroindolisidin (ficuseptin B, ficuseptin C, ficuseptin D, 10R,13aR-tylophorin N-oxide, 10R,13aR-tylocrebrin N-oxide, 10S,13aR-tylocrebrin N-oxide, 10S,13aR-isotylocrebrin N-oxide, dan 10S,13aS-isotylocrebrin N-oxide (Damu et al., 2005). Daun dan akar mengandung stigmasterol dan β-sitosterol.Daun dan batang mengandung alkaloid isotylocrebin dan tylocrebin (Wu et al., 2002 cit Lansky et al., 2008).

Daun digunakan untuk obat penyakit kulit, radang usus buntu, mengatasi bisul, gigitan ular berbisa dan sesak napas.Akar digunakan untuk penawar racun ikan dan penanggulangan asma.Perasan air dari tumbukan akar awar awar dan adas pulowaras dapat digunakan untuk mengobati keracunan ikan, gadung (Dioscorea hispida dennst) dan kepiting.Jika ditumbuk dengan segenggam akar alang-alang dan airnya diperas merupakan obat penyebab muntah yang sangat manjur. Untuk obat bisul dipakai ± 5gram daun segarFicus septica, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempelkan pada bisul. Getah dimanfaatkan untuk mengatasi bengkak-bengkak dan kepala pusing.Buah untuk pencahar.

 

  1. Manfaat

Alkaloid fenantroindolisidin dalam daun Ficus septicamemiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker. Aktivitas sitotoksik komponen fenantroindolisidin menunjukkan nilai poten yang tinggi pada cell lines carcinoma KB-VI (multidrugs resistance cell) dan KB-3-1 (sensitive cell). Salah satu komponen fenantroindolisidin berupa 6-Odesmethylantofine dari Tylophora tanakae mempunyai IC50 7 ± 3 nM untuk sel KB-3-1dan IC50 10 ± 4 nM untuk sel KB-VI (Staerk et al., 2002). Batang Ficus septicayang terbukti mengandung alkaloid fenantroindolisin mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker nasofaring HONE-1 (human nasopharyngeal carcinoma) dan sel kanker lambung NUGC (human gastric cancer) (Damu et al., 2005).Penelitian Yang et al. (2005) menyebutkan daun tanaman ini memiliki efek anti inflamasi melalui penghambatan inducible nitic oxide synthase (iNOS) dan enzim siklooksigenase-2 (COX-2).

Ekstrak etanolik daun Ficus septica memberikan efek sitotoksik terhadap sel kanker payudara T47D dengan IC50 59 µg/ml (unpublished data, CCRC).Isoflavonoid genistin memiliki aktivitas sitotoksik melalui pemacuan apoptosis pada sel kanker ovarian, SV-OV-3.Isoflavonoid genistin menginduksi apoptosis pada sel kanker ovarian SK-OV-3 melalui peningkatan aktivitas caspase 3 (Choi et al., 2006). Kumarin umbelliprenin dan senyawa fenolik resveratrol diketahui memiliki aktivitas stotoksik pada sel MCF7 ( Limet al., 2008; Guisado et al., 2002). Penelitian Chu et al. (2001) membuktikan kumarin eskuletin mampu menginduksi apoptosis dan menurunkan ekspresi protein Bcl-2 hingga 58% pada sel leukemia HL-60 selama inkubasi 9 jam. Penelitian Guisado et al. (2005) menyatakan bahwa senyawa fenolik resveratrol menginduksi apoptosis melalui down-regulation NFκB pada penghambatan jalur signaling PI3K/Akt yang mengakibatkan penurunan ekspresi protein Bcl-2.Triterpenoid Amooranin dari tanaman tropis India Amoora rohituka menginduksi apoptosis dengan menurunkan ekspresi protein Bcl-2 serta memotong caspase 8, 9, 6, Bid pada sel kanker payudara MCF-7 (Rabi et al., 2007).

 

 

 

 

4.11 Aegle marmelos

 

 

 

  1. Klasifikasi
    Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
    Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
    Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
    Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
    Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
    Sub Kelas: Rosidae
    Ordo: Sapindales
    Famili: Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
    Genus: Aegle
    Spesies: Aegle marmelos (L.) Corr

 

 

 

2. Asal dan Distribusi Aegle marmelos

Pohon  ini  tumbuh liar di hutan kering di perbukitan dan dataran tengah dan selatan India dan Burma, Pakistan dan Bangladesh, juga di daun campuran dan hutan dipterocarpaceae kering Indocina Perancis mantan. Perhatian ditemukan dalam tulisan-tulisan dating kembali ke 800 SM Hal ini dibudidayakan di seluruh India, terutama di kuil kebun, karena statusnya sebagai pohon suci, juga di Ceylon dan utara Malaya, daerah lebih kering dari Jawa, dan sampai batas tertentu di bagian utara Luzon di Kepulauan Filipina di mana ia pertama berbuah di 1914. Hal ini tumbuh di beberapa kebun Mesir, dan di Suriname dan Trinidad. Benih dikirim dari Lahore ke Dr Walter T. Swingle tahun 1909 (PI Nomor 24450). Spesimen telah diselenggarakan dalam koleksi jeruk di Florida dan di stasiun penelitian pertanian, tetapi pohon tidak pernah ditanam untuk buahnya di negara ini kecuali oleh Dr David Fairchild di rumahnya, yang “Kampung”, di Miami, setelah ia memperoleh rasa untuk itu, disajikan dengan Jaggery (gula aren), di Ceylon.

 

 

  1. 3.    Deskripsi

 

Aegle marmelos adalah nama ilmiah dari pohon buah yang juga dikenal sebagai Bel atau Sriphal dalam bahasa Hindi lokal. Nama Inggrisnya adalah Batu Apple dan Benggala Quince.Pohon Aegle marmelos adalah salah satu tanaman obat yang paling berguna dari India.Sifat obat telah dijelaskan dalam risalah medis kuno dalam bahasa Sansekerta, Charaka Samhita.Semua bagian pohon ini termasuk batang, kulit kayu, akar, daun dan buah pada semua tahap kematangan memiliki kegunaan untuk obat dan telah digunakan sebagai obat tradisional untuk waktu yang lama. Buah ini hanya bisa digunakan untuk obat  ketikamatang. Buah yang matang adalah aromatik, astringent yang membantu pembangunan kulit dan pendinginbadan .Buah mentah atau setengah matang adalah zat, obat perut untuk meningkatkan nafsu makan dan antiscorbutic, yaitu yang membantu untuk memerangi penyakit kudis disebabkan karena kekurangan vitaminC.Maja (Aegle marmelos) tumbuh dalam bentuk pohon keras, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 10 – 15 m. Batang berkayu (lignosus), berbentuk silindris, batang tua kadang melintir satu sama lain, berwarna coklat kotor, permukaan kasar. Percabangan banyak. Daun tunggal, tersusun berseling (alternate), warna hijau, bentuk bulat telur, panjang ± 7,5 cm, lebar ± 4,8 cm, ujung dan pangkal meruncing (acuminatus), tepi kadang bergerigi tumpul (crenatus), susunan pertulangan menyirip (pinnate), meluruh pada musim kemarau. Bunga majemuk, kelopak berbentuk bintang (stellatus).Buah bulat agak lonjong, panjang 5 – 12 cm. Akar tunggang.Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (cangkok).Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian ± 500 m dpl.Bisa tumbuh di lahan basah seperti rawa-rawa maupun di lahan kering.Mulai belajar berbuah pada umur 5 tahun dan produksi maksimal dicapai setelah umur 15 tahun.Satu pohon bisa menghasilkan 200-400 butir buah.Buah maja biasanya masak pada musim kemarau bersamaan dengan daun-daunnya yang meluruh.

 

 

1)    Deskripsi pohon
Pohon buah Bael termasuk pertumbuhan lambat, berukuran sedang, sampai 40 atau 50 ft (12-15 m) tinggi dengan batang pendek, tebal, lembut, kulit mengelupas, dan menyebar, cabang terkadang berduri, dan ada sebagian yang pendek. Daun muda kaku dan berduri lurus. Batang  bergetah,bercabang menggantung menjadi untaian panjang, secara bertahap menjadi padat. daun  gugur, daun alternatif, ditanggung secara tunggal atau dalam 2 atau 3, terdiri dari 3 sampai 5 oval, runcing, leaflet bergigi pendek-pendek, 1 1/2 sampai 4 (4-10 cm) panjang, 3/4 untuk 2 in ( 2-5 cm) lebar, satu terminal dengan tangkai daun panjang. Daun Baru adalah glossy dan merah muda-merah marun. Daun dewasa memancarkan bau yang tidak menyenangkan.. Bunga harum, dalam kelompok 4 sampai 7 sepanjang branchlets muda, memiliki 4 tangkai, kelopak berdaging, permukaan luar hijau, dan di dalam kekuningan, dan 50 atau lebih benang sari berwarna kuning kehijauan. Buah, bulat, pyriform, oval, atau lonjong, 2 sampai 8 inci (5-20 cm) di diameter, kulit buah tipis, keras, kayu shell atau kulit kurang lembut, abu-abu-hijau sampai buah sepenuhnya matang, sampai kekuningan. Hal ini dihiasi dengan aromatik,kelenjar minyak. Di dalam, ada inti pusat keras dan 8 sampai 20 segmen segitiga samar-samar, tipis, dinding gelap-oranye, penuh dengan aromatik, pucat-oranye, pucat, manis, resin. Tertanam dalam pulp adalah 10 sampai 15 biji, rata-lonjong, sekitar 3/8 dalam (1 cm) panjang, bantalan rambut wol dan masing-masing tertutup dalam kantung perekat, lendir transparan yang mengeras pada pengeringan.

 

2)    Varietas pohon: marmelos Aegle
Satu terhormat, kultivar besar dengan biji kulit dan sedikit tipis dikenal sebagai ‘Kaghzi’.Dr L.B. Singh dan rekan kerja di Institut Penelitian Hortikultura, Saharanpur, India, disurvei pohon buah Bael di Uttar Padesh, disaring sekitar 100 bibit, dipilih sebagai yang paling menjanjikan untuk penanaman komersial: ‘Mitzapuri’, ‘Darogaji’, ‘Ojha’, ‘ Rampuri ‘,’ Azamati ‘,’ Khamaria ‘. Dinilai terbaik adalah ‘Mitzapuri’, dengan kulit yang sangat tipis, pecah dengan sedikit tekanan dari ibu jari, pulp dari tekstur yang baik, bebas dari gusi, rasa sangat baik, dan mengandung beberapa biji. S.K. Roy, pada tahun 1975, melaporkan variabilitas ekstrim dari 24 kultivar dikumpulkan di Agra, Kalkuta, dan Delhi Varanasi. Dia memutuskan bahwa pilihan harus dibuat untuk kadar gula tinggi dan rendahnya tingkat lendir, tanin dan fenolat lain.Hanya kecil, bercangkang keras jenis ini dikenal di Florida dan ini harus digergaji terbuka, retak dengan palu, atau melemparkan tegas terhadap batu.Buah dari jenis ini adalah standar untuk menggunakan obat bukan untuk mengkonsumsi makanan normal.

Makanan Nilai per 100 g Bagian Edible

Air 54,96-61,5 g
Protein 1,8-2,62 g
Lemak 0,2-0,39 g
Karbohidrat 28,11-31,8 g
Karotin 55 mg
Tiamin 0,13 mg
Riboflavin 1,19 mg
Niasin 1,1 mg
Asam askorbat 8-60 mg
Asam tartarat 2,11 mg

 

3)    Manfaat
Aroma dan warna perasan buah maja mudah berubah karena itu buah maja biasanya dimakan segar setelah matang. Buahnya yang masih muda bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengawet.Daging matang segar dari kultivar kualitas yang lebih tinggi, dan “serbat” terbuat dari itu, diambil untuk pencahar ringan mereka, dan efek tonik pencernaan. Sebuah rebusan buah mentah, dengan adas dan jahe, diresepkan dalam kasus wasir.Telah menduga bahwa psoralen dalam pulp meningkatkan toleransi sinar matahari dan membantu dalam mempertahankan warna kulit normal.Hal ini digunakan dalam pengobatan leucoderma.Marmelosin berasal dari pulp diberikan sebagai pencahar dan diuretik.Dalam dosis besar, menurunkan laju respirasi, menekan kerja jantung dan menyebabkan kantuk.Untuk penggunaan obat, buah muda, sementara masih muda, biasanya diiris secara horisontal dan dikeringkan dibawah matahari dkemudian bisa dijual di pasar lokal.Mereka banyak diekspor ke Malaya dan Eropa.Karena astringency, terutama dari buah-buahan liar, Bael mentah yang paling berharga sebagai sarana untuk menghentikan diare dan disentri, yang banyak terjadi di India pada musim panas.

1. Aplikasi dalam Sembelit
Bael matang buah ini dianggap sebagai terbaik dari semua obat pencahar.Ini membersihkan dan nada sampai usus.Penggunaan biasa untuk dua atau tiga bulan membantu mengevakuasi bahkan kotoran lama akumulasi dari perut.Untuk hasil terbaik, harus diambil dalam bentuk sherbat, yang dibuat dari pulp buah matang.Setelah melanggar shell, benih pertama dihapus, dan isinya kemudian diambil dengan sendok dan melewati saringan.Susu dan sedikit gula dapat ditambahkan agar lebih enak. Daging buah matang juga bisa diambil dari sendok tanpa penambahan susu atau gula. Sekitar 60 gram buah akan cukup untuk orang dewasa.

2. Diare dan Disentri
Buah yang matang mentah atau setengah mungkin, obat makanan yang paling efektif untuk diare dan disentri kronis di mana tidak ada demam.Hasil terbaik diperoleh dengan menggunakan Bael kering atau bubuk nya. Buah Bael, ketika masih hijau, diiris dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Irisan Bael kering dikurangi menjadi bubuk dan diawetkan dalam kedap udara botol.Para Bael mentah juga dapat dipanggang dan dibawa dengan Jaggery atau gula merah.Buah ini tampaknya memiliki pengaruh yang kecil dalam disentri akut ketika ada sensasi yang pasti buang air besar tapi bukannya sejumlah besar tinja, darah dan lendir saja dilewatkan.Obat bubuk secara khusus direkomendasikan dalam kondisi ini.Its efek menguntungkan, yang bagaimanapun, yang paling jelas ketika kondisi telah menjadi sub-akut atau kronis.Setelah penggunaan buah dalam kondisi ini, darah secara bertahap menghilang dan tinja mengasumsikan bentuk yang lebih keruh dan padat.Lendir juga menghilang setelah terus menggunakan untuk beberapa waktu.Ini juga merupakan obat yang berharga untuk kondisi disentri kronis yang ditandai dengan diare dan sembelit alternatif.

3. Bisul perut
Infus daun Bael dianggap sebagai obat makanan yang efektif untuk ulkus peptikum.Daun direndam semalam dalam air.Air ini disaring dan diminum sebagai minuman di pagi hari.Rasa sakit dan ketidaknyamanan yang lega ketika pengobatan ini dilanjutkan selama beberapa minggu.Daun Bael kaya tannin yang mengurangi peradangan dan membantu penyembuhan luka.Buah Bael diambil dalam bentuk minuman juga memiliki konten kental yang besar.Zat ini membentuk lapisan pada mukosa lambung dan dengan demikian membantu dalam penyembuhan bisul.

4. Radang pernapasan
Sebuah obat dibuat dari minyak daun Bael mengurangi rasa sakit akibat pilek berulang danpernapasan. Jus diekstrak dari daun Bael dicampur dengan kuantitas yang sama dari minyak wijen dan dipanaskan secara menyeluruh. Beberapa biji lada hitam dan setengah sendok teh jinten hitam ditambahkan ke minyak panas. Hal ini kemudian dihapus dari api dan disimpan untuk digunakan bila diperlukan. Satu sendok teh minyak ini harus dipijat ke kulit kepala sebelum mandi kepala.Penggunaan reguler membangun perlawanan terhadap pilek dan batuk.
Praktek yang umum di India selatan adalah memberikan jus dari daun Bael untuk membawa bantuan dari kejang mengi dan pernapasan.Jus daun, dicampur dalam air hangat dengan sedikit merica, adalah memberikan sebagai minuman.

Manfaat Lain Dari Pohon Aegle Marmoles

1. Daging buah memiliki efek deterjen dan telah digunakan untuk mencuci pakaian. Quisumbing mengatakan bahwa buah Bael digunakan untuk menghilangkan buih dalam cuka keputusan.Permen karet membungkus biji yang paling berlimpah dalam buah-buahan liar dan terutama ketika mereka mentah.Hal ini biasanya digunakan sebagai perekat rumah tangga dan digunakan sebagai adhesif dengan perhiasan.Kadang-kadang terpaksa sebagai pengganti sabun.Hal ini dicampur dengan plester kapur untuk sumur kedap air dan ditambahkan untuk semen ketika membangun dinding.Artis menambahkannya ke cat air mereka, dan dapat diterapkan sebagai lapisan pelindung pada lukisan.Minyak limonen kaya telah disuling dari kulit untuk scenting minyak rambut.Shell buah keras telah dibentuk menjadi pil-dan kotak tembakau, kadang-kadang dihiasi dengan emas dan perak. Kulit buah mentah yang digunakan dalam penyamakan dan juga menghasilkan zat warna kuning untuk belacu dan kain sutra.

2. Dalam budaya Hindu, daun adalah penawaran yang sangat diperlukan ke ‘Tuhan Siwa. Daun dan ranting yang telah memotong untuk pakan ternak.

3. Sebuah cologne diperoleh dengan penyulingan dari bunga.

4. Kayunya sangat aromatik ketika baru dipotong. Ini adalah abu-abu-putih, keras, tapi tidak tahan lama, telah digunakan untuk gerobak dan konstruksi, meskipun cenderung melengkung dan retak selama pengobatan.Hal ini paling baik digunakan untuk ukiran, skala kecil menangani pekerjaan tukang bubut, alat dan pisau, alu dan sisir, mengambil cat halus.

 

 

Dapus

(a)    Mishra,m.p,Dr. 2011.Aegle marmelos : A tree with immense medicinal, ethnobotanical, and traditional properties.

http://www.wisatanesia.com/2010/05/kebun-raya-purwodadi-pasuruan.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 6, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: